AKAR RUMPUT DAN KERESAHANNYA MENJELANG PILKADA

Dalam perubahan tahun hingga ke akhir bulan dua ini, yang namanya percaturan dan kebohongan politik tak ada hentinya bergeming dan tidak bisa menjajikan bahwa suatu kebenaran berpolitik yang ada dan yang terjadi justru kebohongan/hoax terus menerus hampir tak ada hentinya di media sosial. Janji-janji kampanye  menjelang pilkada tak layaknya cerita fiktif. Mengapa ? Kebohongan karena terjadinya perseteruan politik antar kandidat calon pemimpin daerah, ya hanya sekedar menginginkan dan menguasai kekuasaan yang mutlak di badan pemerintahan kelak. Nah yang menjadi persoalan dampaknya dan mempengaruhi pada pikiran, prilaku dan karakter masyarakat dari akar rumput itu sendiri. Yang tadinya hidup saling rukun dan berdampingan, kini saling curiga mencurigai satu sama lain. Pintu saling hidup kebersamaan seakan sudah tertutup rapat.

Partai politik yang semestinya menjadi pengayom dan penyejuk permasalahan, justru menjadi dalang persoalan. Politik berbagi-bagi uang dan politik saling menebar janji-janji juga fitnah sudah menghiasi dari sudut pandang yang hampa. Suatu bentuk polarisasi seperti ini yang terus berkembang dan memicu pergerakan tumbuh kembangnya demokrasi kita di negeri ini.

Perseteruan politik inilah yang terus menjadi polemik, bermuara. Seakan sudah menjadi keputusan mutlak yang tak terbatasi untuk saling menghantam lawan yang tak sepaham. Lalu mau jadi apa negeri ini. Untuk saling menyadari persoalan ini, sangat membutuhkan waktu yang panjang. Tentu siapapun pemimpinnya. Kerinduan untuk mewujudkanan demokrasi yang arif dan bijaksana masih sangat jauh di sana…

DIGITAL VIOLENCE

The form of digital violence is now rife on social media, especially women. Usually it is done by means of distributing photos, videos and also screenshots of curhatan and can also be private documents without permission.

Now, as women be more careful in dealing with problems. Because when you are or have not been a victim of digital violence, first maintain a mental attitude that is to direct the offender directly, because you have rights and authority. Indeed you are not wrong and you may speak up, that you do not want to be treated like that. And you also have the right to look after yourself, and other people don’t have the right to disturb me and forbid it psychologically and physically.

The bias is the way to fortify oneself against violence, which must first have the most important awareness of digital security. There are even people who do not share on social media can also become victims, namely by theft of personal photos. Have you ever been a victim too? So therefore you must learn to start early to create a positive ecosystem, for example if you plant good in social media with all your friends, of course you will reap goodness.

WOMEN AND PATRIAKI CULTURE

Women are synonymous with tenderness and beauty. Many people assume identifying women with their physical form which is closely related to feminine, resilient and painstaking nature. In its journey to date, women always experience unique stories that cannot be passed through. Women with all the inherent traits faced with complex problems ranging from the colonial era to the era after this reform. If in the colonial era women were deliberately left behind in terms of educational intake, then in this reform era women also faced a situation of disadvantage in terms of opportunities and opportunities compared to men, even though this seemed a little latent and did not seem so in the colonial era. Women seem unfit as KONCO WINGKING (back person) What is your attitude toward this problem?

(Patriarchy is a social system that places men as the main authority and dominates in the roles of political leadership, moral authority, social rights and control of property. In the family domain, a figure called the father has authority over women, children and property )

MENJAGA PERADABAN

Sejarah peradaban manusia mencatat beragam perubahan dalam konteks generasi muda sebagai ujung tombak. Dan generasi tua hanya sebagai “tut wuri handayani” Inilah konsep masa depan peradaban manusia. Energi anak muda senantiasa membuncah, menggeliat dan menyebar serta menular. Walau di sisi lain kadang gelisah, tak menentu dan pesimis lantaran transformasi kehidupan dan sistem yang ada. Namun peristiwa ini hanya di bawah standart umum presentasi pemikiran semata. Memang sifat yang menggebu dan reaktif menjadi catatan tersendiri dari makna prilaku kepedulian dalam mengemas konsep tersebut.

Generasi mellenial kita sekarang ini dihadapkan hal demikian. Sebetulnya generasi sebelumnya harus memahami hal demikian, mungkin karena terlalu sibuk mengurusi posisi yang ideal ditampuk kehormatan yang selama ini dipegangnya. Sebetulnya sekarang ini merupakan era dan waktu untuk memberi kesempatan yang setara cara untuk menyelesaikan persoalan, sebelum generasi kita berpaling ke ladang lain dimana ada sesuatu yang sangat menjanjikan. Apa lagi penggunaan media sosial lebih banyak di kuasai para generasi muda kita dan generasi tua merasa ‘jadul’. Kalau kita akui secara jujur.

Di samping itu dengan adanya  penggunaan media sosial oleh generasi milenial juga dapat menjadi gambaran bagaimana mereka lebih menyukai interaksi horizontal.
Di sini terlihat bagaimana anak muda cenderung lebih egaliter, setara, dan terbuka terutama ketika bercericit dan berkomentar tentang situasi sosial, politik dan ekonomi di akun media sosial.

Inilah masa depan generasi millenial kita sudah menghiasi fahana, dinamika kehidupan kita yang menantang ini. Jika dengan catatan kita sebagai generasi sebelumnya mau berpegang dan memakai “kacamata” yang benar.

PEMUDA, IDEALISME DAN POLITIK

Tumbuh kembang pergerakan bangsa ini dalam konteks ke depan, tulang punggung pemuda menjadi landasan yang ril juga kekuatan yang menghidupkan. Bahkan suatu perubahan yang tak ada hentinya bergaung entah secara verbal maupun non verbal, suara pemuda tetap diperhitungkan walau harus bertentangan melawan sistem dalam pemerintahan.

Mungkin kita masih ingat gerakan reformasi yang pernah menjadi kekuatan utama dalam menebas tangan-tangan besi orde baru. Pemudalah yang menjadi ujung tombak jalan menuju kemerdekaan yang selama ini semu dan membelenggu.

Namun sangat disayangkan setelah reformasi, dan dulunya yang mendukung, sangat agresip kini tak tau arahnya. Hanya sebagian yang nampak, antara yang mendukung dan balik arah. Geliat-geliat seperti ini yang sangat menyakitkan dan tidak pantas menjadi contoh dan meneladani.

Negara membutuhkan generasi kita yang tidak munafik, tapi jujur dan kometmen. Bukan mencari generasi yang abal-abal setelah masuk pada ranah perpolitikan dan menjadi tokoh sentral sebagai seorang politisi di partai politik. Wah tambah kacau ! Awalnya ia berangkat masuk pada ‘pintu yang sama namun anehnya kembali tidak lewat pintu yang sama’ juga. Karena harus masuk pada pintu urusan dengan lembaga KPK. Apalagi kalau bukan penyalahgunaan wewenang dan jabatan. Hanya satu yang mereka fokuskan kekayaan diri.

Penulis akui kehadiran pemuda dalam kancah perpolitikan sebetulnya suatu keharusan. Apa lagi bekal mereka masuk sudah sangat diperhitungkan dan matang mempunyai jiwa sebagai seorang intelektualitas, moralitas dan spiritualitas ketiga ini sudah cukup menjadi landasan yang kuat dalam membangun pemerintahan ini.

Di sinilah pemuda dituntut untuk lebih optimisme yang bertujuan membangun mentalisme baru dalam perpolitikan yang sudah semakin rusak di negara ini. Mari pemuda berpikirlah dalam mengemas kepedulian bangsa dan negara yang kita cintai ini.

DWI.BI: KRISIS MORAL DAN KETELADANAN

Belakangan ini pikiranku semakin kacau dan sesekali mengelus dada. Melihat dan mendengar di berbagai berita lewat platform media. Mungkin tidak hanya saya saja, masyarakat luas mungkin juga demikian. Suatu perdebatan para elit politik terbentang luas semakin tak terarah dan tak terkendali, debat kusir, saling mencaci dan juga ada yang sampai menggebrak meja terpampang di layar kaca hampir setiap hari, seakan tidak menunjukkan tentang bahasa santun, kebajikan dan juga prilaku yang beradab. Toh, mereka itu bukan orang yang sembarangan, mereka itu punya latar belakang berpendidikan tinggi, yang sebetulnya patut menjadi teladan bagi generasi kita. Tetapi malah membuat kacau ! Apakah mereka lupa dengan bekal pendidikan yang telah ia terima tentang nilai-nilai moralitas, spiritualitas dan intelektualitas, kalau senyatanya tidak bisa merubah sikap dan prilaku.

Sangat ironis, dan hampir tidak habis pikir dengan sengkarutnya kondisi saat ini, mungkinkah akan terus berkelanjutan hingga pada titik. Negara kita ini akan tercabek-cabek dan hancur ! Siapa yang rugi ? Jelas generasi kita mendatang dan “anda” sudah dikebumikan. Ingat itu !
Memang kita tidak salah saling berdebat yang tujuannya juga untuk kemajuan negeri yang kita cintai ini. Namun alangkah baiknya disertai nilai-nilai luhur keadaban, walau kita saling berbeda pendapat. Alangkah indahnya kalau perdebatan ini disertai keluhuran budi dan saling rendah diri berani mengakui kesalahan dan kebenaran yang hakiki.

Memang di dalam pemahaman demokrasi kita adalah mekanisme politik yang memberikan ruang dan kesempatan yang sama ke pada semua anak bangsa untuk menyuarakan aspirasinya serta kepentingan masing-masing. Karena itu demokrasi tak boleh dibiarkan menjadi wahana kompetisi yang tidak produktif hingga mengancam keutuhan bangsa dan menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perpecahan dan disintregrasi.
Inilah yang harus kita pikirkan dan sambil kita benahi tentang krisis keteladanan, kepercayaan, etik dan moral yang selama ini kabur. Kacau ! Kacau !!

SOSOK SEORANG WANITA DAN DIVERSITASNYA

Sekarang suatu bentuk diversitas peran sosial wanita semakin menunjukkan kiprahnya. Yang dulu sama sekali tidak pernah terbayangkan atau terpikirkan, nyatanya sekarang jadi kenyataan.
Memang kesemuanya itu menunjukkan bahwa wanita sebagai anggota masyarakat dewasa ini dapat dan diperbolehkan mengisi berbagai peran.

Mungkin sangat asing kedengarannya bila seorang wanita masuk dalam kancah persepakbolaan di negeri kita ini. Suatu transformasi sosial kehidupan semakin menuntut dan berkambang. Dengan tumbuh kembangnya waktu yang semakin menggeliat akan membawa suasana semakin bergerak ke depan, tidak kembali kebelakang. Inilah tuntutan zaman yang harus diapresiasi.

Contoh pada Safira Ika Putri Kartini merupakan remaja berusia 16 tahun yang berasal dari Surabaya. Wanita yang akrab disapa Ika, lebih memilih sepak bola.
“Awalnya ayah dan ibu melarang. Mereka masih punya pikiran kalau sepak bola, ya, buat cowok,” ujar Shafira Ika Putri .
“Bahkan dulu, buat beli sepatu bola pertama, Ika harus sabar dan menabung dari uang saku sehari-hari,” tambah Ika.
Namun Ika tetap optimis  dan menyadari kodratnya sebagai wanita. Terbukti dia hingga sampai sekarang masih mempertahankan rambutnya yang panjang. Di dalam lapangan dia tegas, tapi di luar lapangan ya jadi cewek yang sebenarnya.

“Aku masih bisa dandan masih pakai skin car biar nggak hitam”. Jelasnya lagi sambil tertawa. Ini menunjukan keseriusannya dan tekat jadi seorang pemain sepakbola wanita. Juga tak lepas dari kodratnya sebagai wanita, dia masih sempatkan diri juga datang ke salon sepulang traning center dan selalu diantar mamanya. Akhirnya lama-kelamaan, gadis asal Surabaya ini mendapat dukungan dari kedua orang tuanya dan berhasil masuk dalam Skuat Timnas Putri U-15 Indonesia.
Ika mendapatkan panggilan Timnas Putri U-15 setelah tampil ciamik dan menangantarkan Bangka Belitung juara Piala Nusantara 2017 di Jepara.
Ia tak kuasa menahan tangis lantaran tidak percaya bisa mendapat panggilan timnas. Hingga sampai saat ini masuk daftar pemain tetap. Hem..