HUKUM DAN MORAL

Ada selembar coretan kliping yang aku dapat di sisi tempat duduk, dimana Kereta malam Mutiara Senja membawaku pulang ke Jogja. Kuambil sambil kubaca dan kusimpulkan sendiri, apa makna dari coretan itu. Oh, ternyata ?
(Bahasa hukum memang sulit, tetapi yang membuat hukum sulit dimengerti bukanlah bahasa dan maknanya. “Orang hukum lah yang mengacaukan bahasa hukum. Mereka menerjemahkan bahasa hukum sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing,” tegas wartawan senior Karni Ilyas, pada peluncuran Jurnal hukum JENTERA, di Jakarta.
Karni Ilyas mengakui bahwa sulitnya bahasa hukum ini merupakan kendala yang sudah lama terjadi di Indonesia. Kesulitan ini juga seringkali dirasakan oleh para wartawan. Padahal, wartawan lah yang biasanya menerjemahkan bahasa hukum yang dibuat oleh pemerintah ke dalam bahasa yang ringkas agar dapat dimengerti oleh masyarakat.
Menurut Karni, bahasa hukum itu aslinya memang sudah sulit untuk dimengerti. Untuk itu, selama masih ada kepentingan sepihak yang bermain, permainan-permainan, dan rasa ketidakpercayaan, bahasa hukum di Indonesia semakin lama semakin kacau.
Ternyata akibat dari rumitnya bahasa hukum tidak hanya dirasakan oleh kalangan masyarakat umum saja. Bahkan, di kalangan petinggi hukum pun masih timbul perbedaan penafsiran terhadap bahasa hukum)

Mungkin bagi teman-teman yang tahu makna coretan yg aku dapat bisa menerjemahkan dan sekalian menyanggah, silahkan…

Karni mencontohkan ketidaksesuaian pendapat Menkeh dan HAM Yusril Ihza Mahendra dan Metua MA Bagir Manan soal remisi terhadap Tommy Soeharto.
Bersifat eksoteris
Sebelum Karni menyampaikan pendapatnya tersebut, praktisi hukum Todung Mulya Lubis mengatakan bahwa kesulitan untuk mengerti bahasa hukum adalah karena bahasa hukum itu bersitat eksoteris . “Bahasa hukum itu bersifat
eksoteris , maksudnya hanya dapat dimengerti oleh mereka yang mempelajarinya saja,” jelas Mulya.
Sulitnya bahasa hukum juga seringkali membuat masyarakat, pada khsusnya para praktisi hukum, berhadapan dengan masalah multiinterpretasi. Hal ini diakui oleh Mulya, bahwa dalam membaca ketentuan hukum para pengacara sering menghadapi masalah multitafsir. Keadaan ini lah yang seringkali oleh beberapa pihak dijadikan lahan bisnis yang subur.
Karena itu lah, menurut Mulya, para praktisi hukum harus ikut serta untuk memperbaiki keadaan ini. “Kalau tidak, kita ikut membodohi pencari keadilan dan masyarakat awam yang dependen kepada para pengacara,” tegas Mulya. Walaupun memang Mulya menyadari bahwa untuk mewujudkan hal ini sangat sulit, karena sudah berakar dan mendarah daging.
Berkaitan dengan masih banyaknya penggunaan istilah-istilah hukum berbahasa Belanda dalam praktek beracara di pengadilan Indonesia, Mulya mengatakan bahwa hal itu memang belum bisa dihindari karena keterbatasan bahasa Indonesia. “Yang harus dipecahkan sekarang adalah bagaimana menerjemahkan bahasa Belanda itu dengan padanannya dalam bahasa Indonesia,”
(Hm, pagi yang cerah membuatku terlena tentang makna hukum kita yang masih samar..)

DIANTI

Keluarga merupakan lembaga terkecil dari komunitas sosial. Jelas di dalam lebaga kecil itu ada Ayah, Ibu dan anak. Bagaimana dengan lembaga keluarga kecil yang satu ini, bila ditinggalkan salah satu personalnya ? Salah satu sang Ayah.  Jelas akan ada perubahan dari segi emosional, psikologis dan bentuk  sosialnya. Berangkat dari fenomena yang ada hidup di tengah masyarakat, tentu  akan merasakan salah satu perubahan, dimana seorang ibu harus berani mendeklarasikan diri sebagai pemimpin di lembaga keluarga itu. Yaitu sebagai  Single Parent. Ia mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka sendiri.  Selain dalam hal pengasuhan yang dilakukannya seorang diri, orangtua tersebut harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan pendidikan anak-anaknya, serta menjamin kesehatan keluarganya. Maka beban hidup harus siap ditanggung sendiri, yang selayaknya sebuah keluarga ideal.

Seperti sosok perempuan yang satu ini. Perempuan yang pernah aku temui di peron Stasion Bandung. Masih ingatkan perempuan agresif yang bernama Dianti ? Ternyata pertemuan kami dengan akhir perpisahan disertai lambaian tangan Dianti dan aku sempat mengumpat “Ah, busyet amat !” ternyata bersambung kembali. Justru dia sendiri yang memulai. Dua minggu sejak pertemuan itu, ia datang ke rumah. Dianti nekat datang ke tempatku. Memang tidak salah saya menyebut ia sebagai perempuan yang agresif. Dianti datang dengan kedua anaknya laki dan perempuan. Kedatangan Dianti sangat mengejutkan, mengapa ? Dia kok tahu alamatku dan dia tahu aku tinggal di pemondokan ini. Ternyata ia menemukan selembar catatanku yang tertinggal. Tapi tak apalah, mereka aku terima dengan senang hati. Apa lagi kedatangannya dengan kedua anaknya yang lucu-lucu, manja dan dangat familier.
“Oh, Dianti…..Dianti….. jauh-jauh dari Bandung kau sempatkan datang ke Yogja hanya ingin menemuiku.” Pikirku dalam hati.

Nah, persoalan ini sebagai moment tersendiri yang harus kujadikan catatan, bahwa momen inilah yang memang merupakan momen tepat bagi Dianti untuk bersikap agresif. Sikap agresif tidak mesti harus disertai perwujudan. Namun tidak ada salahnya, kalau perwujudan ini juga sebagai ajang silahturohmi, persaudaraan dan saling menjalin ikatan batin. Disinilah sikap agresif seorang wanita yang masih dalam bentuk kewajaran. Dianti…..
kehadiranmu terlambat dan tidak pada saat yang tepat. Bukan tiga bulan yang lalu aku membutuhkan wanita sepertimu. (Bandung di tengah malam)

BAGAIMANA SUAMI BISA BETAH DI RUMAH ?

Lega hati dan pikiran ini sudah tidak ada deadline hari ini. Aku beranjak ke luar dari rumah sekedar ngopi dan mencari wifi gratisan di pojok jalan samping rumah penginapan. Begitu aku sampai, seorang lelaki seusia diatasku kulihat hampir tiap hari duduk di warung itu. Aku mencoba mendekati untuk lebih dekat duduk berhadapan dengannya, paling tidak aku akan mengorek dia. Ada apa dibalik semuanya itu. Eh, ternyata lelaki itu bercerita bahwa ia tidak krasan atau betah di rumah. Padahal di rumah ada anak dan istrinya. Hem, aneh kan ?

Ini suatu persoalan yang akan ku renda. Persoalan seorang suami yang tidak betah di rumah. Memang ada dua faktor, yaitu secara sosiologis dan biologis. Kedua faktor ini memang saling berkaitan. Namun aku sengaja tidak mempersoalkan kedua faktor ini. Untuk menelaah yang lebih spesifik.
Pada dasarnya rumah adalah tempat yang sangat membahagiakan bagi masing-masing penghuninya apakah itu suami, istri dan anak-anak, kalau bisa mengelola dengan baik. Tapi sebaliknya kalau tidak bisa mengelola dengan baik akan hancur. Apa lagi rumah menjadi sebuah tempat kerinduan disaat sang suami, istri dan anak-anak saling berbagi kasih.

Tetapi tak sedikit juga pasangan suami istri yang hanya menjadikan rumah sebagai terminal persinggahan untuk sementara, datang di waktu malam bertegur sapa basa-basi dengan pasangan, tertidur pulas, bangun lalu pergi lagi. Padahal karakteristik “rumahku syurgaku” adalah menjadikan rumah sebagai pusat aktivitas utama masing-masing pasangan, tempat membangun ide serta cita-cita besar, ruang untuk belajar saling menerima dan saling memberi, tempat terbaik untuk meluapkan keluh kesah serta juga mengekspresikan kebahagiaan.

Namun yang terkadang menjadi persoalannya adalah saat pasangan tak betah dirumahnya, dalam hal ini suami. Ini menjadi kendala utama untuk mewujudkan “rumahku adalah syurgaku”
Seperti yang terjadi sahabatku ini.
Nah sekarang bagaimana menurut anda sebagai seorang ibu, seorang suami tidak betah di rumah ? Dan bagaimana juga sebaliknya suami bisa betah di rumah ? Kita sher aja….(surabaya pinggir sore ini)

NURUL DAN FOTOGRAFISNYA

Profesi sebagai seorang fotografer memang suatu pilihan, bagi orang yang mencintai dan menggemari bidang ini. Namun yang terlebih bekerja dalam bidang ini bukan hanya sekedar hoby saja, tapi harus juga sebagai profesi yang sesungguhnya. Mengingat pekerjaan ini tidak mudah, harus butuh kemaunan dan biaya besar. Apa lagi sebagai seorang yang disebut fotografer profesional dan handal tentu harus memiliki peralatan  yang baik. Ada berbagai macam kamera, dari yang murah hingga mahal. Berdasarkan pengalaman sendiri, harga suatu kamera tidak akan jauh dari kualitas. Semakin mahal suatu kamera maka akan semakin tinggi kualitas yang dapat di hasilkan.

Tugas penting seorang fotografer, mengambil gambar peristiwa atau objek tertentu yang sesuai dengan berita yang akan ditulis oleh wartawan tulis, tujuannya untuk melengkapi tulisan berita masuk ke ranah publish. Ini bentuk dari mitra kerja yang sesuai antara fotografer dan wartawan tulis/reporter.
Jika tugas wartawan tulis menghasilkan karya jurnalisik berupa tulisan berita, opini, atau feature, maka fotografer menghasilkan Foto Jurnalistik.
Fotografer menyampaikan informasi atau pesan melalui gambar yang ia potret. Fungsi foto jurnalistik antara lain menginformasikan/to inform, meyakinkan /to persuade dan menghibur/to entertain.

Nah, aku akan mencoba untuk bertanya pada seorang fotografer wanita yang sedang melepaskan kelelahannya, duduk di serambi samping lobi gedung pertunjukan. Mungkin dia habis melesaikan pekerjaannya. Wanita itu mandangku dan mempersilahkan aku duduk. Sekilas kutatap wajahnya, dia membalas dengan senyumnya yang manis, seraya ia mempersilahkan aku duduk. Dari pertemuan inilah akhirnya aku tahu, wanita ini namanya Nurul dan bekerja sebagai seorang fotografi di sebuah surat kabar/media cetak.

“Lalu sudah berapa lama kamu menekuni karya kerja fotografi ini, Rul ?” tanyaku penasaran pada Nurul.
“Ya udah cukup lumayan lama lah !” jawabnya manja kekanak-kanakan.
“Hem, oh ya Rul. Memang di tengah maskulinitas fotografi, perempuan yang bekerja metransformasi objek menjadi subjek fotografi, itu tidak mudah. Sebagai contoh kamu bisa melihat sebagai  fotografer perempuan yang berani berterusterang membuat  stigma hanya menjadi objek kamera. Nah mungkin   gerak postif tersebut yang menjadi langkah awal bagaimana perempuan bisa menjadi aktor intelektual penting dalam dunia fotografi seperti kamu ini.”
“Ya begitulah Mas ! Inilah kehidupan seorang fotografer wanita seperti saya ini, ada kelebihan yang kekurangannya.”
“Fotografer wanita tetap merambah dan berkembang untuk memajukan eksistensi salah satu bidang jurnalistik, yaitu fotografi. Karena Salah satu bentuk manifestasi dari kesetaraan gender ialah bebasnya perempuan untuk memilih prefensi hidup.” kataku mengakhiri, sebab aku harus melanjutkan tugas lain. Hanya ucapan kalimat pendek yang aku sampaikan untuk mengakhiri perjumpaan ini pada fotografer wanita yang cantik si Nurul. (Cepu di ujung pagi)

SUDUT PANDANG

Siang ini saya merasa “trenyuh” dan prihatin bila ada Seorang Jurnalis, Pewarta atau Wartawan, sudah terpengaruh dan masuk pada sistem perpolitikan di dunia kepartaian/parpol, jelas pemberitaannya sangat diragukan. Hem, apa mungkin mereka kurang menyadari atau dibuat tidak sadar bahwa bidang tugasnya menggali kebenaran informasi dari publik yang harus berani jujur, komitmen, konsekuen, santun, tegas, tajam dan berani mati, demi kebenaran sebuah pemberitaan untuk kebaikan publik dalam konteks keadilan hukum dan sosial, adalah tugas pokok yang harus dipegang teguh. Juga kode etik jurnalistik sebagai dasar kuat seorang jurnalis sudah mulai tergerus oleh prilaku era zaman ?

Kalau mau ditelaah lebih dalam lagi,
untuk siapa pemberitaan berisi validitas kebenaran itu ? Tak lain, tentu untuk kepentingan dan kebaikan kita bersama dalam membangun bangsa dan negara yang bermartabat penuh kebajikan juga keadaban. Memang belakangan ini banyak masyarakat yang meragukan tugas mereka. Terutama yang ada di media elektronik, yang nota bene kepemilikan media itu seorang tokoh partai politik. Di sini tidak perlu penulis sebutkan, masyarakat secara luas sudah banyak yang tahu media elektronik mana……

Memang tidak salah, mereka Jurnalis, Pewarta atau Wartawan masuk dalam dunia media, adalah bekerja untuk kebutuhan hidup, bukan sekedar iseng. Juga sebagai mahluk sosial yang harus bertanggung jawab terhadap terutama untuk keluarga. Jadi soal indepedensi sebagai jurnalis merasa kurang ada kepedulikan dan hanya sekedar nomer dua, yang penting jabatan, gaji tinggi dan perlunya ABS (asal bapak suka)

Oleh karena itu, jangan merasa sakit hati, tersinggung bila banyak kritikan dari masyarakat yang terus bermuara dan menjadi viral di medsos. Memang masyarakat sangat butuh pemberitaan  penuh keteduhan dan kenyamanan yang
bernilai positif demi kebenaran untuk kemaslahatan rakyatnya. Karena kritik merupakan sumber air bening informasi dalam mengemas wahana edukasi.

Nah, hanya sekedar untuk mengingat dan yang perlu kita banggakan pada ketaladanan para pahlawan Pers Nasional pendahulunya, antara lain, Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (1880-1918), dikukuhkan sebagai Bapak Pers Nasional pada tahun 2006. Abdoel Rivai (1871-1937) dianugerahi gelar oleh pemerintah sebagai Perintis Pers Indonesia pada tahun 1974. H. Adam Malik Batubara (1917-1984), Mantan Wakil Presiden RI yang ketiga.
Bagaimana, ada yang perlu kalian sanggah ? CMIIW saja dari saya. Hem..

CATATAN PINGGIR

Sering aku berpikir dan sedikit ikut peduli hampir setiap detik informasi di medsos terus silih berganti, ini merupakan kabar atau berita. Entah itu berita yang bersifat serius, modus dan parikenan. Semua itu merupakan bentuk informasi juga berita dan pemberitaan. Pers sebagai institusi jelas harus ikut peduli dan ikut campur tangan yang serius dalam menjalanksn tugasnya dan mekanismenya  menurut standart prmbuatan berita. Nah hal ini siapa yang harus menyalahkan dalam penggunaan medsos sebagai sumber pemberitaan, yang terlebih di era media baru saat ini.

Suatu kebijakan yang konkrit bila sebagai institusi untuk lebih banyak menyikapi kewajiban untuk melakukan klarifikasi dan konfirmasi. Sebagai contoh dengan banyaknya berita hoax di medsos, karena apa ? Ya tentunya karens kurang adanya   filter penyangga. Sementara suatu bentuk  informasi berita dan pemberitaan terus mengalir.

Kata sebuah sumber:
Siapa yang harus bertanggung jawab ? Yang semestinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Ketiga organisasi profesi kewartawanan ini harus ikut aktif mengingatkan para anggotanya perihal klarifikasi dan konfirmasi tersebut. Namun kenyataanya
masih tetap saja belum ditemukan solusi yang signifikan.

Dampak dari perkembangan teknologi ini, semakin marak munculnya jurnalisme warga (citizen journalism). Jadi kebebasan untuk menuangkan aspirasi atau juga sekedar berbagi menyuarakan informasi dan pengamatan, menemukan akses yang jauh lebih mudah daripada era sebelumnya. Perkembangan ini, tentu saja berimbas pada kian sulitnya pembaca menentukan dan menyaring tulisan-tulisan yang hendak dibaca lantaran tulisan tersebar dan terserak dimana-mana. Memang ada juga beberapa kasus, judul tulisan dianggap menjadi salah satu faktor penentu yang mampu menjadi penarik minat baca. Judul-judul bombastis yang seringkali muatan isinya tidak berimbang dan sangat mendasar.

Kalau di media cetak, pewartaan selalu mengalami proses penyeleksian/editing sebelum naik cetak, tetapi bagaimana halnya dengan media online (dibatasi pada jurnalisme warga dalam blok-blok yang penghuninya mencapai ratusan ribu nama) jalas di sini cenderung kesulitan dalam menyeleksi ratusan tulisan yang muncul dalam waktu sekian menit. Bisa saja tulisan hoax yang muncul kemudian dikonsumsi pembaca dengan tanpa sadar. Namun disini, bukan masalah seleksi menyeleksi yang akan diperbincangkan, lantaran hal tekarena apa ? berada diluar maksud dan jangkauan dari tulisan ini. Betul nggak ? Wah, ini yang menjadi dapur pikir kita yang mempunyai kepedulian. (Yogya siang ini)

Reflection

What can this justification be said, that someone who is in a breakup will feel sad, even sometimes there are also some who get to a severe depression because they have been left by a lover who is loved and loved? in fact various expressions appear to reduce the sadness because of a breakup is a story that is dated between real life and prone to unravel. I think it’s too much to accept this fact. Break up, so look for something more interesting. Right?

MENENGOK PERPOLITIKAN KITA

Kadang saya heran, mengapa dalam perjalanan politik yang ada di negeri kita ini terasa tertatih-tatih, penuh dinamika dan warna yang buram. Semua ini lantaran para elite kita tak becus cara mendesain dan saling berseberangan, saling berargumen yang tidak jelas dan paradox. Etape demi etape sering keluar dari nalar integritas para elite itu sendiri yang bersifat ambigu. Ini yang membuat politik di negeri kita ini kacau kurang memahami akan nilai kebajikan dan keadaban. Sangat kasihan para founding father kita yang telah menggagas dengan penuh semangat dan sangat sempurna.
Memang politik merupakan rumusan dari kekuasaan namun dipresepsi tak lebih dari pretise kuasa dan mengaktualisasi diri para elite yang berkuasa. Inilah model rancang bangun perpolitikan kita.

Oleh sebagian besar pelaku politik dianggap sekadar sebagai satu medan aktualisasi sehingga ia kerap hadir tanpa substansi. Sepintas, hal ini dapat kita baca dari laku para politisi yang mengkristal menjadi opini publik. Politik itu sangat jijik dan kotor. Ungkapan itu kerap kita dengar dari sebagian elemen masyarakat yang terserang pandemi apatisme terhadap politik. Simpulan semacam itu tak bisa kita salahkan, sebab mereka hanya mendefinisi dari apa yang mereka tangkap dari berbagai informasi yang beredar luas di masyarakat. Prilaku, karakter dan kepribadian tidak menujukkan sebagai yang semestinya sebagai wakil rakyat. Para elite hanya sekedar meramu tanpa didasari substansi yang ada. Kacau, kacau !!

PADANG BUNGA KASNA

Suatu kenangan yang tak pernah kulupakan dan menjadi catatan tersendiri kubuka kembali lewat lembar demi lembar goresan cerita terpapar. Kini kuhadirkan kembali, tapi ini khusus buat anda yang suka dengan hamparan bunga cantik, wajib nih berkunjung ke Padang Bunga Kasna Karangasem Bali. Keberadaan tempat ini pun kini ramai di jejaring sosial. Apalagi di Instagram. Suasana di padang bunga ini memang sangat menarik, membuat siapa pun tertarik untuk mengunjunginya secara langsung.

Di tempat ini, Anda akan disuguhkan dengan hamparan bunga berwarna putih yang indah. Sekilas, hamparan bunga tersebut pun bakal terlihat seperti salju. Oleh masyarakat setempat, bunga tersebut disebut dengan nama bunga kasna. Oleh karena itulah, tempat ini pun kemudian disebut dengan nama Padang Bunga Kasna Karangasem.

Bunga kasna yang ada di sini sejatinya adalah bunga liar yang tumbuh di sela-sela bebatuan. Masyarakat sekitar pun tertarik setelah melihat keindahannya. Selanjutnya,merekamengembangkannya dan digunakan sebagai sarana pelengkap untuk aktivitas ibadah umat Hindu. Ditambah lagi, suasana dataran tinggi kawasan Karangasem membuat pengembang biakan bunga ini bisa dilakukan dengan mudah.

Anda bisa saja berburu foto yang indah di tempat ini kapan pun. Hanya saja, waktu terbaik untuk bisa memperoleh foto yang bagus adalah berkunjung saat sebelum musim panen. Dengan begitu, Anda akan mendapati keberadaan bunga kasna yang mengembang secara penuh.

Saat berfoto di Padang Bunga Kasna Karangasem ini, pastikan untuk selalu menjaga sopan santun. Ingat, bunga-bunga tersebut merupakan hasil penanaman masyarakat sekitar. Oleh karena itu, Anda harus terlebih dulu meminta izin kepada pemilik lahan untuk melakukan foto.

Pemanenan bunga kasna biasanya dilakukan saat perayaan Hari Raya Galungan. Jadi, pastikan untuk datang ke tempat ini setidaknya dua atau satu minggu sebelum perayaan hari raya tersebut. Kalau terlewat, Anda pasti akan kecewa. Apalagi, masa panen bunga kasna di tempat ini hanya terjadi dua kali dalam satu tahun.

Tidak hanya menawarkan pemandangan hamparan bunga kasna yang indah, Padang Bunga Kasna Karangasem ini juga memiliki pemandangan yang masih alami. Lokasinya yang terletak di dataran tinggi pun membuat suasana di sini sangat adem dan nyaman. Bahkan, beberapa orang menganggap kalau suasana di sini tidak jauh berbeda dengan sebuah desa di Korea. Mungkin karena warna putih bunga seperti sebuah salju kali ya!

Cara Menuju Lokasi Padang Bunga Kasna Karangasem
Padang Bunga Kasna Karangasem ini terletak di Desa Temukus. Lokasinya tidak jauh dari Gunung Agung. Untuk menuju ke tempat ini, Anda harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari Kota Denpasar. Rute yang bisa ditempuh adalah rute menuju ke Pura Besakih. Jangan malu bertanya kepada masyarakat sekitar mengenai letak Desa Temukus, daripada nanti Anda tersesat?

Jangan khawatir, masyarakat di sekitar sudah sangat mengenal keberadaan tempat ini. Selain itu, mereka juga akan dengan senang hati membantu para wisatawan yang datang. Apalagi, Bali sebagai destinasi wisata populer dikenal dengan keramahan para masyarakatnya. Sebagai tambahan, selain Padang Bunga Kasna ini, ada juga tempat serupa yang tidak kalah menariknya, yakni padang bunga marigold.
Nah, tempat ini sangat indah kan? Jadi lokasi yang wajib nih untuk para pemburu foto instagrammable. Ayo jangan lewatkan.

MEMBANGUN TOLERANSI ANTAR SESAMA

Kisah Umat Islam yang Membangun Gereja di NTT ini jadi Bukti Indahnya Kerukunan Beragama. Sebuah budaya luhur soal toleransi yang telah dijalankan secara turun temurun.
Belakangan ini, suasana masyarakat Indonesia tak lepas dari peristiwa intoleransi yang terkadang memicu gesekan antar masyarakat. Sebaliknya, nun jauh di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), suasana berbeda justru tersaji di antara keragaman agama yang ada di Pulau Tersebut.

Salah satu buktinya adalah keberadaan Gereja Ismail, yang justru dibangun atas inisiatif warga Muslim yang hidup berdampingan dengan penganut Kristiani di sana. Kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Alor sudah terjalin sejak ratusan tahun lalu. Simak ulasannya berikut ini.

Gereja dibangun atas inisiatif umat Muslim di pemukiman setempat
Kisah ini terjadi Kampung Ilawe Desa Alila Timur, di mana masyarakat beragam Islam dan Kristen hidup berdampingan satu sama lain. Di sana, ada sebuah gereja yang diberi nama Ismail. Meski tak lazim bagi sebuah tempat ibadah nasrani, keberadaan rumah peribadatan itu ternyata mempunyai kisah yang sangat inspiratif sekaligus mengharukan.

Menurut sejarahnya, gereja tersebut dibangun oleh Keluarga Imam Masjid Darul Falaq, Dahlan Lobang, yang memiliki kakak bernama Ismail. Setelah pembangunan selesai pada 1994, gereja kemudian diberi nama Ismail sebagai bentuk penghormatan atas jasanya tersebut.

Warga Kristen lain di Alor juga saling membantu membangun masjid
Tak hanya di Kampung Ilawe, para pemeluk agama Islam dan Kristen di Desa Dulolong Barat , kecamatan Alor Barat Laut, juga menerapkan hal yang sama. Saling membantu dalam mendirikan rumah ibadah masing-masing, telah menjadi sebuah tradisi yang turun temurun.

Menurut Imam Masjid Sabili Salam, Sumirat mengatakan, gereja yang dibangun di daerah tersebut juga tak lepas dari peran umat muslim setempat. “Kita bangun sama-sama, begitu pula renovasi yang dilakukan pada dua tahun lalu, kami warga Muslim membantu bangun gereja,” jelas Sumirat.

Kebersamaan dalam keragaman yang telah terjalin selama ratusan tahun
Jika dilihat dari lokasi tempat tinggal masyarakat di Alor, mereka terbagi di dua tempat yakni di daerah pegunungan yang beragama Kristen, dan pesisir laut menganut kepercayaan sebagai muslim. Meski berbeda, kerukunan mereka telah terjalin sejak zaman dulu.

“Sudah dari dulu orang tua (ketika tinggal) di gunung sudah ada kerukunan, Muslim dan Kristen ini kan orang bersaudara dalam rumah, ketika kami orang di Alor ini mulai kenal beragama, yang sulung tetap di gunung jadi Kristen dan yang di pantai menjadi Muslim,” kata Sekretaris gereja Imanuel Folbo, Martinus Beka.

Apa yang dilakukan oleh masyarakat Alor di atas, telah mencerminkan sebuah bentuk toleransi yang ternyata telah dilakukan secara turun-temurun hingga saat ini. Berbeda keyakinan, justru semakin mempererat tali persaudaraan mereka. Hal ini seolah menjadi oase penyegar di tengah masyarakat yang kini kerap bergesekan karena kasus intoleransi. (Cerita inspiratif Nusa Tenggara Timur Toleransi Agama)