UPAH PARA AWAK MEDIA

UMR bukanlah gaji pokok yang diterima pekerja. Gaji pokok merupakan imbalan dasar dari sebuah pekerjaan yang besarnya ditentukan menurut skala upah yang berlaku di perusahaan. UMR ditetapkan oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.07/Men/2013 tentang Upah Minimum. , termasuk besaran persentase kenaikan setiap tahunnya, sedangkan gaji pokok adalah kebijakan setiap perusahaan.

Nah bagaimana dengan upah para awak media yang belakangan ini sedang menjadi pembicaraan hangat.Tidak salah
Sebagai Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta Afwan Purwanto angkat bicara, masih ada hak jurnalis yang diabaikan oleh media-media massa di Jakarta.

Hasil ini didapat dari temuan yang ia lakukan, bahwa ketika AJI Jakarta melakukan riset pada November-Desember 2019 terhadap 114 jurnalis muda di 37 media di Jakarta dengan masa kerja di bawah 3 tahun.

“Ada beberapa hak-hak dari para pekerja media yang masih terabaikan. Pertama, hak soal cuti haid, ruang laktasi, tidak ada uang lembur, kerja lebih dari 8 jam per hari. Kita tahu aturan kerja itu 8 jam per hari, kemudian tidak mendapatkan libur pengganti, misalnya mereka disuruh masuk pas ada bencana, tapi enggak dapat libur pengganti,” kata dia dalam diskusi di kantor AJI Jakarta, Minggu (26/1/2020).

“Masih ada media yang belum memberikan pemulihan psikologis termasuk kalau jurnalisnya digebukin, korban persekusi, korban doxing di media sosial. Masih amat sangat jarang media yang memerhatikan pemulihan itu,” kata dia lagi
AJI Jakarta juga menyebutkan, sebagian besar responden survei mengaku tidak mendapati adanya serikat pekerja di tempat mereka bekerja.

“Sebanyak 73 responden sebagian besar menjawab tidak ada. Ada yang jawab tidak tahu, ada 31 orang yang jawab ada. Kemudian kami tanyakan apakah mereka bergabung dengan serikat pekerja, sebagian dari mereka belum, ada yang sudah 16 orang, ada yang tidak mengisi pertanyaan tersebut,” ujar Afwan.

Selain itu, AJI Jakarta masih mendapati responden yang mengaku tidak mendapatkan tunjangan kesehatan dari kantornya. Padahal, tunjangan kesehatan wajib diberikan kepada pekerja, termasuk jurnalis.

“Dari 114 responden ada 15 jurnalis yang tidak mendapatkan tunjangan kesehatan dari kantor. Kan standarnya wajib itu, BPJS Kesehatan ya. Di beberapa kantor ada juga kartu kesehatan dari pihak swasta. Jadi 10 persennya masih belum mendapatkan tunjangan kesehatan,” kata dia.

Nah, bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan jurnalis bekerja profesional kalau digaji tidak layak, ya kan? Ironinya adalah jurnalis berani memberitakan hal lain sementara terkait standar kebutuhan mereka sendiri tidak berani mereka eksploitasi di media masing-masing. Hmm…..

IS THERE THAT HITLER’S MURDER?

Rumor has it that Adolf Hitler died in the city of Surabaya, Indonesia, sticking out a few years ago. recently, the speculation was raised again after the Mayor of Surabaya, Tri Rismaharini will form a team to track it down.

Previously, Risma claimed to get information that Hitler disguised as a doctor Anton Georg Poch from conversation with cultural, Emha Ainun Najib alias Cak Nun.

  But it is doubtful activist history activist from the community of Roode Brug Soerabaia, Ady Setiawan. he claimed to be skeptical of the issue that Hitler, who was a doctor in Poch, died and was buried in Ngagel’s Tomb, Surabaya.

  “I am skeptical about the issue (Hitler died in Surabaya),” said Ady to Okezone via text message on Thursday (2/4/2015).
the factors that stated Adolf Hitler could escape to Indonesia were disclosed related to the situation of Indonesia in the Pacific War which was also related to World War II.

When Germany in Europe and Japan (German allies) began to be squeezed in 1943, it was considered impossible, if there were even a U-Boat to bring Der Führer from Germany to Indonesia.

  “What are you going here for (Indonesia)? In 1943 alone Pacific waters were not safe for U-Boatsdo you want to bring a caliber of Hitler’s caliber ?, “he said.
During this time from various sources, Hitler was declared lifeless on April 30, 1945, a few days before the capitulation of Germany to the allies and the Soviet Union.

Hitler and his newly married wife, Eva Braun, committed suicide in which Hitler shot himself in the head, while Eva swallowed cyanide pills near the bunkers around the Reichskanzlei Chancellery’s office. (Greetings from the Story Studio)

THE IMPLEMENTATION OF HUMANISM

Conflicts between religions become viral in social media. Feels very frightening, with a form of terror and intimidation. But how can we learn from this problem to take wisdom and we make lessons for our future generations.
Why is there conflict and why should it occur? Conflict is two very different camps, whether in the form of understanding and belief, it is very dichotomous and sound dilemmatic. In the form of differences that lack of good management will cause problems. Or the difference is allowed to end without close control in the context of togetherness. While religion should also filter problems, on the contrary religion is used as an unclear political struggle. This is the common thread of the conflict.
  Conflict actually needs to require a local cultural approach and social wisdom as the initial basis. Also feeling mutual need strengths and weaknesses as a form of social piety, tolerance and humanist attitude. According to the analysis of a sociologist from Jogyakarta, Ignas Kleden. “A protracted and unresolved conflict will result in a crisis. An uncertain situation. Old values ​​adopted have faded, but new values ​​have not yet been formed. This has resulted in a crisis of identity, trust and morals. At present even friends don’t trust each other, they even suspect each other. Because of the stalled social dialogue process, it causes a shift in the identity of Indonesian people into instant change and imitators. So that a good person turns bad. “
  Well now it depends on our person who is still faithful, requires a sense of love between people and a sense of selfishness that only concerned with personal and exclusive attitudes still shackles in our hearts to be shed. And there is only one word, this sense of “humanist” that we must pack.

GENDERUWO

Bagi yang mengikuti kisah-kisah mistis di Indonesia, pastinya sudah nggak asing dengan nama “Genderuwo”. Makhluk yang konon memiliki postur tubuh tinggi besar berkulit hitam legam dengan rambut tebal yang menutupi badannya ini, ternyata dipercaya keberadaannya oleh masyarakat Hindu dan Buddha saat agama Islam belum memasuki Indonesia. Istilah “genderuwa” sendiri berasal dari bahasa Kawi, yakni “gandharwa”. Lalu istilah itu akhirnya lebih dikenal dengan “genderuwo” setelah beradaptasi dengan bahasa Jawa.
   Mitos genderuwo berakar dari mitos kuno Persia, yang mengenal mahkluk tersebut dengan nama “gandarewa”. Dalam mitos Persia, gandarewa adalah siluman air yang terus-terusan memakan hal-hal baik dalam kepercayaan orang Persia sebelum akhirnya dia dikalahkan oleh seorang pahlawan bernama Keresaspa. Setelah diadaptasi oleh masyarakat Hindu-Buddha, genderuwo jadi lebih dikenal sebagai mahkluk berkelamin pria yang tinggal di khayangan.
   Konon, genderuwo senang sekali menggoda kaum perempuan. Bahkan, menurut mitos, genderuwo dapat menyamar menjadi seorang suami dari seorang wanita untuk bisa berhubungan badan dengan wanita. Selain bisa menyamar menjadi manusia, genderuwo juga terkadang bisa memilih wujud sosok kecil berbulu yang bisa tumbuh besar secara sekejap. Genderuwo kabarnya dapat menampakkan diri kepada manusia jika merasa terganggu.  
   Mitos dalam budaya Jawa mengatakan bahwa genderuwo berasal dari arwah orang yang meninggal secara tidak sempurna, seperti kematian yang diakibatkan oleh bunuh diri, penguburan yang tidak baik, dan bahkan kematian akibat kecelakaan atau pembunuhan yang menyebabkan arwah belum mau menerima kematian.
   Tidak semua genderuwo itu bersifat jahat. Sama seperti halnya manusia, genderuwo pun bisa dibagi menjadi genderuwo jahat dan baik. Makanya, konon ada beberapa orang yang bisa berteman dengan genderuwo karena kebaikannya itu. Baik-jahatnya genderuwo pun bergantung kepada sikap manusia sendiri. Jika manusia itu terkesan mengusik dan mengganggu, mereka bisa saja untuk tak segan mengganggu manusia.
   Beberapa kalangan masyarakat mempercayai bahwa genderuwo dapat membantu orang untuk mendapatkan keberuntungan dari nomor togel. Cara manusia meminta bantuan kepada genderuwo adalah dengan cara membakar sate gagak yang merupakan kesukaannya. Praktik ini pun masih ada di Indonesia, yang kebanyakan dari masyarakatnya mempercayai kekuatan gaib dari makhluk halus. Inilah kisah mahluk Genderuwo.

MENGAPA HARUS TERJADI NUNING

Magetan merupakan kota kecil yang menyimpan sebongkah kenangan yang tak terburai, mengemas kehidupan penuh gejolak, hampa, tercecer diantara detak dan titik langkah yang gontai. Namun ada sosok perempuan yang mampu bertahan menangkal dan mengemas menjadi suatu bentuk perwujudan yang nyata, bahwa Nuning mampu menyudahi persoalan itu, walau hatinya perih dan  walau secara jujur Nuning harus dengan lantang menyuarakan isi hatinya yang pedih kering kerontang tak terhiba itu dengan sia-sia.

Sementara selembar daun jati luruh tercampak tersapu angin malam dan terhempas, terjerembab ke tanah basah, sebasah pipi Nuning yang sore itu harus menuai kenyataan, kini terukir kembali pada dinding-dinding kerinduan yang hampa pada putri kesayangannya, yang  direbut oleh suaminya, lantaran perceraian. Sisca harus kalah dalam  persidangan. Kalah dalam pengertian finansial, karena tidak bisa menghadirkan pengacara. Pokoknya kalah dari segalanya. Ia pulang dengan tangan hampa, membawa kepedihan dan luka hati yang paling dalam.

Aku mencoba untuk menghampirinya, kebetulan rumah Nuning tidak jauh dari tempatku nginap. Di Magetan ini aku masih punya goresan karya yang belum terselesaikan, jadi aku masih agak lama tinggal di sini, hingga aku bisa kenal dan bersahabat dengan wanita cantik single parent yang bernama Nuning Andini.
“Aku sama sekali tidak bisa melupakan anakku……” rintih Nuning yang membuatku merasa iba dan seakan tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya harus berbuat apa ! Memandang wajah Nuning yang sendu itu.
“Dan aku harus berjuang bagaiman untuk merebut kembali anakku…..” katanya lagi pelan. Aku hanya bisa menghela nafasku.
Angin sore meluruhkan selehelai daun jati untuk kedua kalinya, tercampak pada tanah gersang, segersang hati Nuning

Dari segi hukum bila mengacu tentang hak asuh anak dalam UU. Jika terjadi perselisihan akibat hak asuh, maka pengadilan yang akan memutuskan anak akan ikut dengan siapa. Biasanya, pengadilan akan memberikan hak asuh perwalian dan pemeliharaan kepada ibu jika anak masih di bawah umur (belum 12 tahun menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 105).
Jika anak sudah bisa memilih, ia diperbolehkan memilih ingin diasuh oleh ayah atau ibunya. Sedangkan pihak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan anak adalah ayah.
Namun kenyataannya, tak semudah yang kita bayangkan. Nuning ya tetap seperti ini, harus menunggu berhari-hari ujud   kerinduan kembali pada tempatnya, yang kini tersembunyi dan sepi….

.

SINGLE PARENT

Looks like there’s nothing wrong with writing about the struggle of a super woman. Single Parent, or Super Mom. Why get a title like that? Just say the woman’s name is Jeng Nunuk and she lives in front of the house where I stayed. I know for only a few days it’s already broken. Not because she is beautiful, clean and sexy. But because of the instinct of a man who has matured in everything. Alias ​​is not childish.

Jeng Nunuk got the title like that, because her husband left without responsibility. Until her two children were teenagers, her husband never went home. There was a rumor that the husband had remarried and lived in Menado. Stupid boy! I thought, my wife is already beautiful like that, why I left her. Want to find what else?

Jeng Nunuk can also be said to be a father, as well as being a mother to their baby. Certainly not an easy thing. Surely only those with a mentality of steel are able to go through and get through. The problem gets even more complicated when the single parent is a mother. People used to call them widows. Yes … a widow. It’s no secret, if the presence of a widow is often the subject of gossip for those around him. Somehow negative stigma sometimes continues to echo. This is where I need to clarify or care to defend him about the stigma that continues to flow. Not all single parents are negative in their behavior.

For him this kind of thing is daily food, as long as he continues to work and work. But the fact is he never lacks in terms of the needs of his household. Her two beautiful children always obey her mother’s orders. Not the mother is too over-protective, no! Remarkably, a woman like her Nunuk Dian Nastiti stands for.

But also ironically, it was a sneer that was hurled at him slid from the mouths of fellow women. How strange. Women underestimate their own people. Yet what they are talking about is also the dignity of women. So low is the dignity of a widow, that her existence is like a yellow light for fellow women to be careful. Especially if by chance the widow has a beautiful face. Not to mention the temptation that comes from men, who often feel both insulting and humiliating. In fact, being a single parent is “abot songgohe”. Hem, poor Jeng Nunuk. Only everything God knows …

CATATAN SIANG HARI

Banyak orang yang bermimpi untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi pada jenjang lebih tinggi, yaitu menyandang gelar kesarsarjanaan. Ini tidak mudah, perlu membutuhkan perjuangan, pertimbangan dan pemikiran yang lebih matang. Pertimbangan itu didasari oleh jurusan apa yang harus diambil dan biaya yang harus dikeluarkan. Banyaknya jurusan pada mata kuliah semakin juga banyaknya peluang untuk mencari pekerjaan dan sambil kuliah dapat sambil kerja, baik itu dari bidang ekonomi, regulasi, kesehatan, bahasa, seni, dan lain sebagainya.Tapi tak semuanya lho, mempunyai kans kerja yang tinggi di zaman now ini. Tergantung bagaimana para mahasiswa/i ini bisa mengambil kesempatan dengan baik.

Nah siang tadi kebetulan aku ada di Kantin Fakultas Ilmu Budaya Unair, menunggu seseorang untuk bahan investigasi. Sambil menunggu di sebuah kantin, tentu sangat mengenangkan dengan menu hidangan yang disajikan. Selain tersedia dalam berbagai pilihan dan rasa yang enak, harga makanan dan minuman dijamin gak bikin kantong bolong. Yang datang di kantin ini tidak hanya dari kalangan mahasiswa FIB saja, namun kantin ini juga terkenal di kalangan mahasiswa dari berbagai fakultas di Unair. Oleh karena itu, kantin ini memang tidak pernah sepi pengunjung.

Udara siang itu terasa panas, namun dengan rindangnya pepohonan di sekitar kantin, membuat udara  tidak terasa panas. Sambil menunggu, kebetulan ada anak-anak muda yang aku kenal. Jadi di sini tidak sendirian, ada empat dara-dara manis mahasiswi kampus ini, membuat kami berempat terasa “gayeng” dan familier.  Wah, cocok ini untuk bahan cerita di FB

Aku mencoba bertanya pada Ita, yang kebetulan duduk tidak jauh dariku, dan Ita sebagian dari generasi penerus teknik informatika di kampus ini sebab ia mengambil jurusan ini. “Kamu ambil jurusan ini, enak lho It !” tanyaku pada Ita
“Ya, memang ini keinginanku” jawabnya
“Jurusan Teknik Informatika ini yang nantinya akan banyak diperlukan oleh perusahaan di era digital sekarang ini, sebab teknologi akan kian berkembang dengan seiringnya detak waktu.
Disamping itu juga mengajarkan tentang seputar pemrograman software, jaringan, website serta aplikasi. Namun kamu harus siap, disamping itu kamu dituntut betul-betul menyukai hitung-hitungan, sebab sebagian besar mata kuliahnya mengharuskanmu untuk berkutat dengan angka-angka. Ya, dengan maraknya dunia komputerisasi akan membuka peluang kerja yang sungguh luas bagi para lulusan teknik informatika untuk programer dengan kisaran gaji yang tak bisa dianggap sebelah mata, lho It !” aku mencoba menghibur dan memberi semangat.
“Betul sekali Om !” sergah jawab Ita sepontan seraya mengacungkan jempolnya ke arahku. Widya yang duduk di samping Ita terperangah dan takjub mendengar uraian yang punya prospek ke depan ini.

“Nah kalau kamu Wit, bagaimana ! Ambil jurusan apa ?” tanyaku pada Widya.
“Orang tuaku suruh aku ambil jurusan Desain komunikasi visual, Om ! Katanya punya prospek ke depan sangat bagus dan bapakku ‘kan punya latar belakang sebagai fotografer, Om” jawab Widya datar yang seakan tidak ada keraguan.
“Bagus bagaimana Wid ?” tanyaku penasaran.
“Desain komunikasi visual atau yang lebih diketahui dengan nama DKV,  jurusan ini sangat menjanjikan dan disamping itu, aku harus sungguh-sungguh layak mempunyai talenta seni sebab di dalamnya, nanti aku akan diajari seputar seni desain, ilustrasi, fotografi, animasi, desain laman, dan hal-hal yang berhubungan dengan seni rupa.
DKV menggabungkan ilmu seni manual dengan digital sehingga nantinya jebolan dari desain komunikasi visual ini bisa bekerja di bidang periklanan, percetakan, penerbitan, ilustrator, dan masih banyak lagi.” penjelasan yang panjang lebar ini, aku jadi lebih penasaran.

Tapi sayang perjumpaan yang gayeng ini berhenti sampai di sini. Orang yang aku tunggu sudang ada di depanku. Bagaimana tidak ! Ini urusan yang lebih penting menyangkut tentang pekerjaan kesehariaanku. Jadi perjumpaan dengan dara-dara manis ini kuakhiri. Hem..

OH, FARIDA NASIBMU

Farida, pertama aku kenal di sebuah pengiapan, dimana sudah enam hari ini akun nginap. Semarang, ada goresan cerita yang tak kulupakan, karena aneh. Sore itu pas aku duduk-duduk di lobby, sekilas aku melihat wanita yang bernama Farida nyudut di pojok ruangan. Aku mencoba menghampiri karena kami sudah saling kenal dan akrap. Biasanya dia tidak seperti itu, diam, muram dan apatis. Aku jadi penasaran.

Farida sebagai Guest Relation Officer atau biasanya disebut GRO. Cara bekerjanya kurang lebih mendengarkan segala keluhan tamu. Dan yang sangat menarik dengan gaya bahasa yang lembut, senyum menawan meyakinkan kalau “ibu peri” yang satu ini penyabar, karena seringnya bertemu dengan pelanggan tamu hotel. Juga sambil menenangkan masalah, memberikan solusi, membuat mereka kadang langsung dianggap sebagai anggota keluarga baru. GRO dengan kesabarannya menjadikan mereka selalu ada di hati para tamu, dan memiliki teman atau saudara dimana-mana. Inilah yang membuat aku simpati. Tetapi untuk Farida tidak demikian, malah bertolak belakang, ingin brontak pada siapa !

Disinilah yang terjadi ada kepiluan yang sangat mendera di hati Farida. Belum lagi persoalan di dalam rumahtangganya. Aneh, ia sudah menikah. Tapi tidak mau mengakui setatusnya sebagai istri dan ibu rumahtangga. Ia kurang menyadari, bahwa hidup harus berani menghadapi tantangan, sebab ini merupakan suatu pilihan. Mengapa harus hidup ! Kalau tidak mau berani menghadapi tantangan.
“Sejak aku menikah dengan mas Ardi, aku tahu bahwa statusku sekarang menjadi seorang istri, ibu rumahtangga dan ibunya anak-anak. Namun nyatanya bukan jalan yang mudah untuk aku lakukan” katanya
“Memangnya kami menyesal Da ! Setelah menikah dengan suamimu itu ? Berarti kamu belum siap untuk nikah” kataku menyela
“Memang, aku dipaksa. Idealnya  menjadi ibu rumah tangga diusia seperti aku sekarang ini merupakan pilihan yang paling tidak cocok. Mengapa, percuma aku mendapatkan gelar sarjana yang akhirnya harus ke dapur. Ijazah sarjana yang kuperoleh dengan belajar selama bertahun-tahun hanya tersimpan di lemari. Dan kalau aku bekerja disini karena terpaksa. Sebagai pelampiasan” tambah kata Farida protes.
“Heh sebentar, kamu sebetulnya marah sama siapa Farida yang cantik ?” kataku menghibur dan mencoba untuk menetralisir. Mengapa dia ‘ngamuk sak karepe dewe’.
“Mangkel sama seniorku !” jawabnya.

Masuk dunia perhotelan, atau juga kita sebut sebagai seorang hotelier, bersiap-siaplah dengan yang namanya senioritas dan perselisihan antar departement. Seperti yang kita ketahui, struktur di hotel itu bertingkat, rumit, dan kompleks. Apa lagi yang masih mempunyai status   fresh graduate maka bersiaplah menghadapi senior-senior dengan beragam sifat dan sikap mereka. Ada yang baik banget, ada pula yang rasanya pengen tonjok ! Ada yang keras dalam artian memang mengajar, ada juga yang iseng ngerjain. Inilah yang menjadi problem Farida sebagai pekerja Hotel.
Di lingkup rumahtangganya sudah ruwet, di pekerjaannya juga semakin ruwet.

Farida ingin kembali ke masa lalunya dan ingin menyudahi persoalan. Yaitu ingin menjadi srorang mahasiswi, untuk mengambil S2 yang menjadi keingiannya. Maklum usia Farida masih muda. Oh, nasibmu si cantik…




A BEAUTIFUL MORNING

How beautiful this morning feels the cool air flowing through this soul. It’s a pity that such a beautiful morning without any meaningless word strokes if not spoken and how beautiful about what I saw. like everyone happily welcomed a day full of hope. Oh .. immediately the soul begins to understand how you are the almighty creator, how you are able to paint beauty. Morning is still so beautiful, fills the heart and freezes dreams, comes with light and seeks souls who crave it. spending the morning is like missing out on the beauty of a blossoming world. morning will always come to decorate with the sun and dance like the colors of the rainbow. this is where I started singing to welcome the morning and look back for something that I let go.

MIRNA

Wah, enak kamu sekarang Mir, jadi sekretaris redaksi. Di sini kamu identik dengan sebutan sebagai “Ibu” redaksi, karena kamu mampu menjalankan tugas mengkoordinasikan redaksi, Juga  menjadi pendengar yang baik. Sebab Sekretaris Redaksi menampung curahan hati para redaksi.” Kataku pada Mirna. disaat kami berdua sedang menikmati indahnya pagi di kedai makan, Karah Agung Surabaya lima tahun silam.
“Ah, biasa saja Mas Dwi. Biarpun bagaimana aku juga harus siap !” Jawab Mirna semangat yang seakan dia merasa tidak mempunyai beban dalam menjalankan tugasnya.

Memang sebagai Sekretaris Redaksi tersimpan data Wartawan, Redaktur, Koordinator Peliputan, dan organ redaksi lainnya terkumpul. Data-data yang ada berdasarkan fakta yang terjadi di redaksi. Misalnya, data mengenai catatan-catatan keharusan wartawan menyetorkan tulisannya, catatan mengenai sikap, keterlambatan, dan catatan-catatan sikap lainnya. Sehingga, Sekretaris Redaksi  harus mampu menjaga rahasia redaksi dan juga harus mampu pula menjadi jembatan perselisihan antar organ keredaksian.

Pada dasarnya Pemimpin Redaksi juga dibantu oleh Sekretaris Redaksi. Sekretaris Redaksi berada langsung di bawah kendali Pemimpin Redaksi atau Redaktur Pelaksana. Meskipun begitu, Sekretaris Redaksi tidak memiliki alur komando pada posisi di bawahnya. Namun, Sekretaris Redaksi secara langsung bertanggung jawab pada Redaktur Pelaksana dan Pemimpin Redaksi mengenai kondisi redaksi.
“Ok, selamat beraktivitas ya Mir ?!”
Mirna hanya tersenyum manis sedikit manja. Menyudahi perjumpaan kami…