MENJAGA PERADABAN

Sejarah peradaban manusia mencatat beragam perubahan dalam konteks generasi muda sebagai ujung tombak. Dan generasi tua hanya sebagai “tut wuri handayani” Inilah konsep masa depan peradaban manusia. Energi anak muda senantiasa membuncah, menggeliat dan menyebar serta menular. Walau di sisi lain kadang gelisah, tak menentu dan pesimis lantaran transformasi kehidupan dan sistem yang ada. Namun peristiwa ini hanya di bawah standart umum presentasi pemikiran semata. Memang sifat yang menggebu dan reaktif menjadi catatan tersendiri dari makna prilaku kepedulian dalam mengemas konsep tersebut.

Generasi mellenial kita sekarang ini dihadapkan hal demikian. Sebetulnya generasi sebelumnya harus memahami hal demikian, mungkin karena terlalu sibuk mengurusi posisi yang ideal ditampuk kehormatan yang selama ini dipegangnya. Sebetulnya sekarang ini merupakan era dan waktu untuk memberi kesempatan yang setara cara untuk menyelesaikan persoalan, sebelum generasi kita berpaling ke ladang lain dimana ada sesuatu yang sangat menjanjikan. Apa lagi penggunaan media sosial lebih banyak di kuasai para generasi muda kita dan generasi tua merasa ‘jadul’. Kalau kita akui secara jujur.

Di samping itu dengan adanya  penggunaan media sosial oleh generasi milenial juga dapat menjadi gambaran bagaimana mereka lebih menyukai interaksi horizontal.
Di sini terlihat bagaimana anak muda cenderung lebih egaliter, setara, dan terbuka terutama ketika bercericit dan berkomentar tentang situasi sosial, politik dan ekonomi di akun media sosial.

Inilah masa depan generasi millenial kita sudah menghiasi fahana, dinamika kehidupan kita yang menantang ini. Jika dengan catatan kita sebagai generasi sebelumnya mau berpegang dan memakai “kacamata” yang benar.

PEMUDA, IDEALISME DAN POLITIK

Tumbuh kembang pergerakan bangsa ini dalam konteks ke depan, tulang punggung pemuda menjadi landasan yang ril juga kekuatan yang menghidupkan. Bahkan suatu perubahan yang tak ada hentinya bergaung entah secara verbal maupun non verbal, suara pemuda tetap diperhitungkan walau harus bertentangan melawan sistem dalam pemerintahan.

Mungkin kita masih ingat gerakan reformasi yang pernah menjadi kekuatan utama dalam menebas tangan-tangan besi orde baru. Pemudalah yang menjadi ujung tombak jalan menuju kemerdekaan yang selama ini semu dan membelenggu.

Namun sangat disayangkan setelah reformasi, dan dulunya yang mendukung, sangat agresip kini tak tau arahnya. Hanya sebagian yang nampak, antara yang mendukung dan balik arah. Geliat-geliat seperti ini yang sangat menyakitkan dan tidak pantas menjadi contoh dan meneladani.

Negara membutuhkan generasi kita yang tidak munafik, tapi jujur dan kometmen. Bukan mencari generasi yang abal-abal setelah masuk pada ranah perpolitikan dan menjadi tokoh sentral sebagai seorang politisi di partai politik. Wah tambah kacau ! Awalnya ia berangkat masuk pada ‘pintu yang sama namun anehnya kembali tidak lewat pintu yang sama’ juga. Karena harus masuk pada pintu urusan dengan lembaga KPK. Apalagi kalau bukan penyalahgunaan wewenang dan jabatan. Hanya satu yang mereka fokuskan kekayaan diri.

Penulis akui kehadiran pemuda dalam kancah perpolitikan sebetulnya suatu keharusan. Apa lagi bekal mereka masuk sudah sangat diperhitungkan dan matang mempunyai jiwa sebagai seorang intelektualitas, moralitas dan spiritualitas ketiga ini sudah cukup menjadi landasan yang kuat dalam membangun pemerintahan ini.

Di sinilah pemuda dituntut untuk lebih optimisme yang bertujuan membangun mentalisme baru dalam perpolitikan yang sudah semakin rusak di negara ini. Mari pemuda berpikirlah dalam mengemas kepedulian bangsa dan negara yang kita cintai ini.

DWI.BI: KRISIS MORAL DAN KETELADANAN

Belakangan ini pikiranku semakin kacau dan sesekali mengelus dada. Melihat dan mendengar di berbagai berita lewat platform media. Mungkin tidak hanya saya saja, masyarakat luas mungkin juga demikian. Suatu perdebatan para elit politik terbentang luas semakin tak terarah dan tak terkendali, debat kusir, saling mencaci dan juga ada yang sampai menggebrak meja terpampang di layar kaca hampir setiap hari, seakan tidak menunjukkan tentang bahasa santun, kebajikan dan juga prilaku yang beradab. Toh, mereka itu bukan orang yang sembarangan, mereka itu punya latar belakang berpendidikan tinggi, yang sebetulnya patut menjadi teladan bagi generasi kita. Tetapi malah membuat kacau ! Apakah mereka lupa dengan bekal pendidikan yang telah ia terima tentang nilai-nilai moralitas, spiritualitas dan intelektualitas, kalau senyatanya tidak bisa merubah sikap dan prilaku.

Sangat ironis, dan hampir tidak habis pikir dengan sengkarutnya kondisi saat ini, mungkinkah akan terus berkelanjutan hingga pada titik. Negara kita ini akan tercabek-cabek dan hancur ! Siapa yang rugi ? Jelas generasi kita mendatang dan “anda” sudah dikebumikan. Ingat itu !
Memang kita tidak salah saling berdebat yang tujuannya juga untuk kemajuan negeri yang kita cintai ini. Namun alangkah baiknya disertai nilai-nilai luhur keadaban, walau kita saling berbeda pendapat. Alangkah indahnya kalau perdebatan ini disertai keluhuran budi dan saling rendah diri berani mengakui kesalahan dan kebenaran yang hakiki.

Memang di dalam pemahaman demokrasi kita adalah mekanisme politik yang memberikan ruang dan kesempatan yang sama ke pada semua anak bangsa untuk menyuarakan aspirasinya serta kepentingan masing-masing. Karena itu demokrasi tak boleh dibiarkan menjadi wahana kompetisi yang tidak produktif hingga mengancam keutuhan bangsa dan menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perpecahan dan disintregrasi.
Inilah yang harus kita pikirkan dan sambil kita benahi tentang krisis keteladanan, kepercayaan, etik dan moral yang selama ini kabur. Kacau ! Kacau !!

SOSOK SEORANG WANITA DAN DIVERSITASNYA

Sekarang suatu bentuk diversitas peran sosial wanita semakin menunjukkan kiprahnya. Yang dulu sama sekali tidak pernah terbayangkan atau terpikirkan, nyatanya sekarang jadi kenyataan.
Memang kesemuanya itu menunjukkan bahwa wanita sebagai anggota masyarakat dewasa ini dapat dan diperbolehkan mengisi berbagai peran.

Mungkin sangat asing kedengarannya bila seorang wanita masuk dalam kancah persepakbolaan di negeri kita ini. Suatu transformasi sosial kehidupan semakin menuntut dan berkambang. Dengan tumbuh kembangnya waktu yang semakin menggeliat akan membawa suasana semakin bergerak ke depan, tidak kembali kebelakang. Inilah tuntutan zaman yang harus diapresiasi.

Contoh pada Safira Ika Putri Kartini merupakan remaja berusia 16 tahun yang berasal dari Surabaya. Wanita yang akrab disapa Ika, lebih memilih sepak bola.
“Awalnya ayah dan ibu melarang. Mereka masih punya pikiran kalau sepak bola, ya, buat cowok,” ujar Shafira Ika Putri .
“Bahkan dulu, buat beli sepatu bola pertama, Ika harus sabar dan menabung dari uang saku sehari-hari,” tambah Ika.
Namun Ika tetap optimis  dan menyadari kodratnya sebagai wanita. Terbukti dia hingga sampai sekarang masih mempertahankan rambutnya yang panjang. Di dalam lapangan dia tegas, tapi di luar lapangan ya jadi cewek yang sebenarnya.

“Aku masih bisa dandan masih pakai skin car biar nggak hitam”. Jelasnya lagi sambil tertawa. Ini menunjukan keseriusannya dan tekat jadi seorang pemain sepakbola wanita. Juga tak lepas dari kodratnya sebagai wanita, dia masih sempatkan diri juga datang ke salon sepulang traning center dan selalu diantar mamanya. Akhirnya lama-kelamaan, gadis asal Surabaya ini mendapat dukungan dari kedua orang tuanya dan berhasil masuk dalam Skuat Timnas Putri U-15 Indonesia.
Ika mendapatkan panggilan Timnas Putri U-15 setelah tampil ciamik dan menangantarkan Bangka Belitung juara Piala Nusantara 2017 di Jepara.
Ia tak kuasa menahan tangis lantaran tidak percaya bisa mendapat panggilan timnas. Hingga sampai saat ini masuk daftar pemain tetap. Hem..

DUTIES OF JOURNALISTS

Just the experience that I’ve done to interview people who were directly involved in the incident. A very interesting object to be summed up as breaking news / break news, becomes very important and important, in helping objectivity to make news.
This is one form to explore or obtain news sources, namely by conducting interviews. Of course, in this way a journalist must be prepared in all respects. Because to get clear and accountable news. Journalists are not enough to rely solely on direct observation in the field or what is commonly referred to as reportage, but tangible evidence that is more accurate from the informants concerned. Not the term just to hear ‘rumors’.

This is considered the most important and competent in providing various information about an event or case, is the resource person himself because the person involved is in the place and there is even someone who is involved as the perpetrator. A demand that must be made by journalists to always reconfirm the truth of a news / information to the speakers or competent parties. Besides that
it must also be followed by reliable explanations of the accuracy of the various parties who know about the problem, incident or event.
Interview activities function to obtain data, facts, comments and key information as a support for the objectivity of the news. Because remembering the limitations of journalists either in terms of number and space, resulting in many events that escaped his attention. As humans can not be separated from weaknesses and strengths.

This is a function as a form of interview to seek confirmation of the truth of information. In the world of journalists, it cannot be separated from the terms check and balance, recheck or verification. With the aim that the news is made based on data and facts, not the opinion of the author. Therefore the principle of accommodating the interests of both parties is the absolute prerequisite in producing neutral news. Hem …

DWI B.IRIANTO: ADA APA ANTARA AGAMA DAN PANCASILA

Pemberitaan yang sangat santer di sebuah media online belakangan ini, bahwa Kepala BPIP Yudian Wahyudi dengan terang-terangan mengatakan bahwa ada kelompok minoritas yang ingin melawan Pancasila. Menurut dia wah ini sangat berbahaya. Musuh terbesar Pancasila dikatakannya adalah agama, bukan kesukuan.

Akhirnya pernyataan ini direspon oleh
Sekretaris Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) Manimbang Kahariady sangat menyayangkan pernyataan Kepala BPIP tersebut. “Sangat disayangkan, BPIP yang diharapkan menjadi lembaga yang mengemban misi penting untuk pemantapan ideologi Pancasila, kok pemimpinnya mala-mindset merendahkan Pancasila, ” tutur katanya
di Kantor MN KAHMI, Jalan Turi, Jakarta Selatan, Rabu (12/2/2020).
Manimbang mendesak agar Yudian segera mencabut pernyataannya dan memberikan klarifikasi komprehensif atas pernyataannya.

Menurut Manimbang ini bisa dikhawatirkan akan membuat lembaga BPIP tidak efektif bahkan berpotensi menjadi alat menjadi kepentingan politik tertentu.
“Kualitas pemimpin seperti ini, bukan akan memantapkan idelogi Pancasila, malah merendahkan” ujarnya lagi lebih bersemangat dan dia juga mengusulkan
agar keberadaan lembaga tersebut ditinjau kembali. Selain untuk efisiensi anggaran, juga untuk mencegah interpretasi sepihak tentang ideologi Pancasila yang dapat mengganggu keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Berpotensi menciptakan kegaduhan baru dan memicu konflik sesama anak bangsa,” tandasnya mengakhiri.

KONGRES PAN RICUH

Berita menarik yang perlu kita simak, terjadi kericuhan dalam Kongres V PAN pada hari kedua, di Hotel Claro, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (11/2/2020).
Terjadi  pukul 12.30 Wita, suara keributan terdengar dari dalam ruang rapat pleno PAN di lantai 2 Hotel Claro, Kendari.

Akhirnya oleh aparat keamanan mengambil sigap untuk membuka pintu ruang rapat karena tidak kondusif.   Sejumlah peserta kongres terlihat saling melempar kursi di dalam ruangan dan aksi saling dorong pun tak terhindarkan.
Akhirnya Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan yang berdiri di atas podium meminta peserta kongres kembali duduk di tempat masing-masing dan mengakhiri kericuhan.

“Zulhas di sini saudara-saudaraku, duduk di kursi masing-masing. Lempar-lemparan stop, cukup, ambil tempat duduk masing-masing,” kata Zulkifli.
Namun tetap saja peserta kongres tak mengindahkan imbauan Zulkifli dan masih melanjutkan saling melempar kursi kepada peserta lain.

Kedewasaan berwawasan dan berpola pikir pemimpin sebetulnya lebih dikedepankan. Sebab kedewasaan adalah saat seseorang tetap bisa bersikap tenang dan bijaksana dalam menyelesaikan sebuah situasi atau masalah seberat apapun. Banyak orang yang menganggap dirinya dewasa tetapi tidak memperhatikan perasaan orang lain. Karena sifat kekanak – kanakannya tidak dapat dikalahkan, mereka hanya dapat melihat suatu masalah dari satu sudut pandang saja dan orang itu tidak pernah merasakan apa yang orang lain rasakan. Kedewasaan seseorang dapat di ukur dari sudut pandang pemikiran, cara berfikir dan cara menyikapi suatu masalah bukan dari umur seseorang.

Dalam sebuah lingkungan kerja, pasti ada seorang pemimpin yang tentunya akan menentukan arah kepada bawahannya untuk memajukan sebuah perusahaan. Di saat Anda berada pada sebuah posisi sebagai seorang pemimpin, kedewasaan merupakan sebuah titik penentu apakah Anda mampu memimpin bawahan Anda atau tidak. Tidak jarang sebagai seorang pemimpin kita menemukan bawahan yang sulit untuk diatur baik dalam hal kinerja maupun sikap. Dalam hal ini, kedewasaan seorang pemimpin sangat dibutuhkan.

Seorang pemimpin yang baik akan selalu menempatkan dirinya pada posisi yang tepat dan bersikap bijaksana tanpa melibatkan keegoisannya. Keberhasilan pemimpin tergantung dari kemampuannya bersikap dewasa, karena saat pemimpin tidak dapat bersikap dewasa dan mementingkan kepentingannya sendiri, maka bersiaplah untuk tidak di dengarkan. Berikut ini beberapa hal yang membutuhkan kedewasaan sikap seorang pemimpin.

SELAMAT HARI PERS NASIONAL

Tanggal 9 Februari merupakan Hari Pers Nasional Wijayanto sebagai Direktur Center for Media and Democracy LP3ES dengan antusias menyampaikan refleksinya yang terkait dengan keberadaan media saat ini. Seperti juga yang dikatakan Wijayanto, bahwa
demokrasi kita membutuhkan jurnalisme lebih dari sebelumnya.

Hal ini karena demokrasi kita tengah mengalami proses regresi yang serius yang sangat rentan mengarah pada autoritarianisme. Sayangnya, banyak peristiwa menunjukkan bahwa jurnalisme kita gagal untuk menjadikan dirinya sebagai medium yang menghadirkan aspirasi dan pikiran publik. “Alih-alih mendorong konsolidasi, jurnalisme kita justru memunggungi demokrasi,” ujarnya, Minggu (9/2/2020).

Juga ia menambahkan, indikatornya adalah jurnalisme kita gagal bahkan untuk sekadar mengimplementasikan sembilan elemen paling dasar jurnalisme sebagaimana diungkap oleh Kovach dan Rosenstiel (2016). Elemen-elemen ini disarikan dari 21 diskusi kelompok terarah yang dihadiri 3000 jurnalis yang meliputi testimoni lebih dari 300 jurnalis di Amerika.

Adapun elemen yang dimaksud yakni jurnalisme adalah kebenaran, loyalitas kepada publik, disiplin verifikasi, independensi, mengawasi kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas, media harus bisa menjadi forum publik untuk menyampaikan kritisisme, jurnalisme harus memikat dan relevan, berita harus proporsional dan komprehensif, dan mendengarkan panggilan hati nurani.

“Setiap jurnalis harus memiliki semaacam kesadaran akan etika dan tanggung jawab diri sebagai semacam kompas moral. Mereka memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan sekeras-kerasnya panggilan hati nurani mereka dan memberikan peluang selebar-lebarnya bagi pihak lain untuk melakukan hal yang sama. Salah satu manisfestasi dari hal ini adalah kemampuan seorang jurnalis untuk mendengarkan
amanat hati nurani rakyat. Sayangnya kemampuan ini mulai menjadi barang langka dalam jurnalisme kita,” ujarnya.

Menurutnya, ketika sembilan elemen jurnalisme gagal dipenuhi, yang terjadi kemudian adalah defisit demokrasi sebagai res-publica di mana publik dan segenap apirasinya seharusnya mendapat tempat utama.

“Media dan jurnalisme kita justru menjadi corong dari elite yang juga memunggungi nilai-nilai demokrasi, dipenuhi bias dan sensasi, urung menegakkan independensi dan menjalankan disiplin verifikasi. Harus disadari bahwa ketika demokrasi runtuh dan berubah menjadi otoriterisme, salah satu korban pertamanya adalah kebebasan media,” tambah katanya lagi.

Dalam keadaan ini, lanjutnya, media harus melakukan introspeksi dengan sangat serius dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya agar tidak semakin ditinggalkan oleh publik. (Baca juga: Tanam Pohon Bersama Presiden, PWI Daerah Bawa Pohon Masing-masing ke HPN 2020).
Selamat berkarya menuju demokrasi yang utuh dan transparasi..

KEGELISAHAN DUNIA PERS, MEDIA SOSIAL SEMAKIN BERKEMBANG

Bisakah Pemerintah dan DPR punya inisiatif untuk menunjukkan hasrat komitmennya dalam menyikapi dan melindungi persoalan yang membelit di lingkup media massa. Seperti media masa yang harus selalu  berhadapan dengan platform media digital global ?  Dimana, keadilannya yang masih timpang ini. Untuk menanggapi hal tersebut, kata pre­siden setuju bahwa ekosistem media harus dilindungi dan diproteksi. Dengan demikian, masyarakat bisa mendapatkan konten berita yang baik. ’’Untuk itu, diperlukan industri pers yang sehat,’’ terangnya.

Menurut Jokowi platform di­gital yang regulasinya belum ada sangat menjajah dunia pers. Dia juga sempat berbincang dengan para pemimpin redaksi media massa terkait keberlangsungan industri media. ’’Saya minta untuk segera disiapkan draf regulasi yang bisa melindungi dan memproteksi dunia pers kita,’’ lanjut Jokowi.

“Jangan sampai semuanya diambil platform digital dari luar. Di satu sisi, mereka tidak membayar pajak. Aturan main juga tidak ada. Sebaliknya, aturan untuk pers di Indonesia sangat rigid (kaku). Maka, perlu ada regulasi karena sebenarnya problem yang sama juga dihadapi banyak negara. Yakni, produknya sudah telanjur masuk, sedangkan aturannya belum ada.” Jokowi merujuk pada kesalahan aturan yang sudah berjalan namun menjadi bahan pemikiran. Contohnya, persoalan pajak yang masih belum transparan
’’Perlu aturan yang lebih adil dalam tata cara perpajakan terkait fungsi media,’’ lanjut Jokowi lebih semangat, karena faktor pajak itu.

Persoalan ini yang diangkat dalam puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 di Banjarmasin (8/2). Presiden Joko Widodo membuka peluang adanya regulasi setelah mendapat desakan dari insan pers. Tujuannya, perusahaan pers bisa bertahan dari gempuran platform digital Persaingan pers dengan platform digital menjadi isu utama yang diangkat dalam puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 di Banjarmasin (8/2).

Juga banyak yang hadir, sejumlah tokoh dalam peringatan Hari Pers tersebut. Di antaranya, Ketua DPR Puan Maharani, Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh,  Ketua MPR Bambang Soesatyo, beberapa menteri, dan sejumlah duta besar negara sahabat. Juga tidak ikut ketinggalan perwakilan media massa se-Indonesia juga ikut menyemarakkan.
Namun ada yang lebih mengesankan presiden sekaligus meresmikan Taman Hutan Pers di Banjarbaru. Dia menanam pohon mersawa bersama sejumlah menteri.

Munculnya persoalan ini sebetulnya sudah lama karena beberapa waktu belakangan, dunia pers mengalami disrupsi setelah banyak platform digital, khususnya media sosial, menjadi tren. Inilah yang dipersoalkan kalangan pers bukanlah kemunculan platform-platform tersebut, melainkan minimnya regulasi yang mengaturnya. Alhasil, bisnis media pun terkena imbas yang tentu saja merembet pada dunia pers dan koran semakin kurang dinikmati. Hmm…

KORAN SINDO KEMBALI MERAIH PENGHARGAAN

Perlu mendapat apresiasi yang tinggi KORAN SINDO kembali meraih penghargaan pada ajang peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (7/2/2020) Bisa dikategorikan perhargaan ini merupakan bentuk dari Indonesia Young Readers Awards (IYRA) 2020 sebagai Gold Winner National Newspaper.
Malam apresiasi yang digelar Serikat Perusahaan Pers (SPS) itu, KORAN SINDO juga mendapatkan dua penghargaan lain pada kategori Indonesia Print Media Awards (IPMA) 2020.

KORAN SINDO suatu media yang merupakan bagian dari MNC Group ini juga dianugerahi Silver Winner kategori The Best of National Newspaper IPMA 2020 untuk dua edisi halaman muka surat kabar.
Dengan sangat menggembirakan penghargaan ini diterima langsung oleh Pemimpin Redaksi KORAN SINDO dan SINDONews.com Djaka Susila di sela-sela malam apresiasi SPS yang mengambil tema “Kreasi yang Menginspirasi Negeri”.

Menurut Djaka penghargaan gold winner IYRA 2020 semakin melecutkan semangat redaksi dalam menciptakan konten media cetak yang berkualitas.
Juga kata Djaka, untuk kategori IYRA 2020, artikel yang mendapatkan penghargaan adalah halaman khusus yang didedikasikan untuk para pembaca muda.

“Ini (artikel) juga dibuat oleh anak-anak muda yang tergabung dalam Gen Sindo. Mereka ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang kami beri ruang berkreasi, membuat berita, mengembang isu dan reportase, lalu menuangkannya dalam bentuk artikel dengan bahasa mereka sendiri,” ujar Djaka seusai menerima penghargaan.
Sekadar diketahui, artikel yang meraih emas IYRA 2020 adalah edisi Weekend, yang tayang pada 28 Desember 2019. Saat itu tim Gen SINDO mengangkat tema “Jaksel: Tempat Nongkrong, Pusat Hiburan”.

Artikel tersebut mengupas spot-spot yang biasa dijadikan kongko anak-anak muda di wilayah Jakarta Selatan. Selain artikel, pada rubrik ini dilengkapi info grafis menarik yang bisa menjadi panduan untuk berwisata melepas kepenatan.
Adapun untuk apresiasi silver winner, diperoleh dari visual halaman muka KORAN SINDO edisi 17 April 2019 dan 17 September 2019. Pada edisi 17 April 2019, ditampilkan artikel dengan desain kotak suara pemilu. Sementara edisi 17 September menyajikan bencana kabut asap yang melanda Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Wakil Pemimpin Redaksi KORAN SINDO yang juga pengasuh rubrik Gen Sindo, Hanna F Fauzie, bersyukur rubrik anak muda yang dikelolanya kembali menjadi yang terbaik. “Ini untuk kesekian kalinya kita dapat emas IYRA, semoga ke depan bisa dipertahankan dan ditingkatkan lagi,” ujarnya.
Dia menambahkan, KORAN SINDO memiliki sekitar 200 anggota Gen SINDO sejak awal rubrik itu hadir beberapa tahun silam.

Di bagian lain, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo yang hadir pada salah satu rangkaian acara HPN mengatakan bahwa media dan pemerintah merupakan dua pihak yang selalu saling mengisi.
Dia mengakui peran pers cukup penting kendati zaman sudah berubah. Dia membandingkan media zaman Orde Baru dengan zaman Reformasi, di mana terjadi peningkatan kualitas serta kemudahan membuat media.

“Dulu susah untuk membuat media, tapi sekarang di era demokrasi yang kian berkualitas membikin media menjadi mudah, sehingga kualitas harus terus meningkat juga,” jelasnya.
Hebat dan selamat buat SINDO terus berkarya dan tunjukkan kreatifitasmu.