
Sejarah peradaban manusia mencatat beragam perubahan dalam konteks generasi muda sebagai ujung tombak. Dan generasi tua hanya sebagai “tut wuri handayani” Inilah konsep masa depan peradaban manusia. Energi anak muda senantiasa membuncah, menggeliat dan menyebar serta menular. Walau di sisi lain kadang gelisah, tak menentu dan pesimis lantaran transformasi kehidupan dan sistem yang ada. Namun peristiwa ini hanya di bawah standart umum presentasi pemikiran semata. Memang sifat yang menggebu dan reaktif menjadi catatan tersendiri dari makna prilaku kepedulian dalam mengemas konsep tersebut.
Generasi mellenial kita sekarang ini dihadapkan hal demikian. Sebetulnya generasi sebelumnya harus memahami hal demikian, mungkin karena terlalu sibuk mengurusi posisi yang ideal ditampuk kehormatan yang selama ini dipegangnya. Sebetulnya sekarang ini merupakan era dan waktu untuk memberi kesempatan yang setara cara untuk menyelesaikan persoalan, sebelum generasi kita berpaling ke ladang lain dimana ada sesuatu yang sangat menjanjikan. Apa lagi penggunaan media sosial lebih banyak di kuasai para generasi muda kita dan generasi tua merasa ‘jadul’. Kalau kita akui secara jujur.
Di samping itu dengan adanya penggunaan media sosial oleh generasi milenial juga dapat menjadi gambaran bagaimana mereka lebih menyukai interaksi horizontal.
Di sini terlihat bagaimana anak muda cenderung lebih egaliter, setara, dan terbuka terutama ketika bercericit dan berkomentar tentang situasi sosial, politik dan ekonomi di akun media sosial.
Inilah masa depan generasi millenial kita sudah menghiasi fahana, dinamika kehidupan kita yang menantang ini. Jika dengan catatan kita sebagai generasi sebelumnya mau berpegang dan memakai “kacamata” yang benar.









