
Keluarga merupakan lembaga terkecil dari komunitas sosial. Jelas di dalam lebaga kecil itu ada Ayah, Ibu dan anak. Bagaimana dengan lembaga keluarga kecil yang satu ini, bila ditinggalkan salah satu personalnya ? Salah satu sang Ayah. Jelas akan ada perubahan dari segi emosional, psikologis dan bentuk sosialnya. Berangkat dari fenomena yang ada hidup di tengah masyarakat, tentu akan merasakan salah satu perubahan, dimana seorang ibu harus berani mendeklarasikan diri sebagai pemimpin di lembaga keluarga itu. Yaitu sebagai Single Parent. Ia mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka sendiri. Selain dalam hal pengasuhan yang dilakukannya seorang diri, orangtua tersebut harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan pendidikan anak-anaknya, serta menjamin kesehatan keluarganya. Maka beban hidup harus siap ditanggung sendiri, yang selayaknya sebuah keluarga ideal.
Seperti sosok perempuan yang satu ini. Perempuan yang pernah aku temui di peron Stasion Bandung. Masih ingatkan perempuan agresif yang bernama Dianti ? Ternyata pertemuan kami dengan akhir perpisahan disertai lambaian tangan Dianti dan aku sempat mengumpat “Ah, busyet amat !” ternyata bersambung kembali. Justru dia sendiri yang memulai. Dua minggu sejak pertemuan itu, ia datang ke rumah. Dianti nekat datang ke tempatku. Memang tidak salah saya menyebut ia sebagai perempuan yang agresif. Dianti datang dengan kedua anaknya laki dan perempuan. Kedatangan Dianti sangat mengejutkan, mengapa ? Dia kok tahu alamatku dan dia tahu aku tinggal di pemondokan ini. Ternyata ia menemukan selembar catatanku yang tertinggal. Tapi tak apalah, mereka aku terima dengan senang hati. Apa lagi kedatangannya dengan kedua anaknya yang lucu-lucu, manja dan dangat familier.
“Oh, Dianti…..Dianti….. jauh-jauh dari Bandung kau sempatkan datang ke Yogja hanya ingin menemuiku.” Pikirku dalam hati.
Nah, persoalan ini sebagai moment tersendiri yang harus kujadikan catatan, bahwa momen inilah yang memang merupakan momen tepat bagi Dianti untuk bersikap agresif. Sikap agresif tidak mesti harus disertai perwujudan. Namun tidak ada salahnya, kalau perwujudan ini juga sebagai ajang silahturohmi, persaudaraan dan saling menjalin ikatan batin. Disinilah sikap agresif seorang wanita yang masih dalam bentuk kewajaran. Dianti…..
kehadiranmu terlambat dan tidak pada saat yang tepat. Bukan tiga bulan yang lalu aku membutuhkan wanita sepertimu. (Bandung di tengah malam)