CATATAN PINGGIR

Sering aku berpikir dan sedikit ikut peduli hampir setiap detik informasi di medsos terus silih berganti, ini merupakan kabar atau berita. Entah itu berita yang bersifat serius, modus dan parikenan. Semua itu merupakan bentuk informasi juga berita dan pemberitaan. Pers sebagai institusi jelas harus ikut peduli dan ikut campur tangan yang serius dalam menjalanksn tugasnya dan mekanismenya  menurut standart prmbuatan berita. Nah hal ini siapa yang harus menyalahkan dalam penggunaan medsos sebagai sumber pemberitaan, yang terlebih di era media baru saat ini.

Suatu kebijakan yang konkrit bila sebagai institusi untuk lebih banyak menyikapi kewajiban untuk melakukan klarifikasi dan konfirmasi. Sebagai contoh dengan banyaknya berita hoax di medsos, karena apa ? Ya tentunya karens kurang adanya   filter penyangga. Sementara suatu bentuk  informasi berita dan pemberitaan terus mengalir.

Kata sebuah sumber:
Siapa yang harus bertanggung jawab ? Yang semestinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Ketiga organisasi profesi kewartawanan ini harus ikut aktif mengingatkan para anggotanya perihal klarifikasi dan konfirmasi tersebut. Namun kenyataanya
masih tetap saja belum ditemukan solusi yang signifikan.

Dampak dari perkembangan teknologi ini, semakin marak munculnya jurnalisme warga (citizen journalism). Jadi kebebasan untuk menuangkan aspirasi atau juga sekedar berbagi menyuarakan informasi dan pengamatan, menemukan akses yang jauh lebih mudah daripada era sebelumnya. Perkembangan ini, tentu saja berimbas pada kian sulitnya pembaca menentukan dan menyaring tulisan-tulisan yang hendak dibaca lantaran tulisan tersebar dan terserak dimana-mana. Memang ada juga beberapa kasus, judul tulisan dianggap menjadi salah satu faktor penentu yang mampu menjadi penarik minat baca. Judul-judul bombastis yang seringkali muatan isinya tidak berimbang dan sangat mendasar.

Kalau di media cetak, pewartaan selalu mengalami proses penyeleksian/editing sebelum naik cetak, tetapi bagaimana halnya dengan media online (dibatasi pada jurnalisme warga dalam blok-blok yang penghuninya mencapai ratusan ribu nama) jalas di sini cenderung kesulitan dalam menyeleksi ratusan tulisan yang muncul dalam waktu sekian menit. Bisa saja tulisan hoax yang muncul kemudian dikonsumsi pembaca dengan tanpa sadar. Namun disini, bukan masalah seleksi menyeleksi yang akan diperbincangkan, lantaran hal tekarena apa ? berada diluar maksud dan jangkauan dari tulisan ini. Betul nggak ? Wah, ini yang menjadi dapur pikir kita yang mempunyai kepedulian. (Yogya siang ini)

Tinggalkan komentar